Penjelasan Seadanya Soal Nyimpang




Kru Nyimpang dari kiri: Devon Sucker, Ayi Nurhasanah, Hilmy Almuyassar, dan Ade Gunawan



Sebelum melangkah keluar rumahnya di daerah Katamso, Bandung, kang Dian Hardiana nitip pesan “ulah sosorangan wae”. Jangan sendirian saja (kerjanya).

Aku sempat mengernyitkan dahi, kemudian aku ngerti bahwa selama ini ternyata aku jarang banget menyinggung siapa saja orang-orang yang bareng aku di pustakaki maupun nyimpang, entah itu di media sosial atau saat sedang mengobrol dengan teman-teman di Bandung. Sehinga kesannya seperti aku sok heroik gitu. Itu kesalahanku, sih. Heuheu.  

Jadi aku tulis ini panjang lebar demi menebus kesalahan tersebut. Ini bakal agak panjang. Semoga kawan-kawan punya waktu. He he.

Kira-kira satu setengah tahun yang lalu aku bikin grup whatsapp membicarakan soal kemungkinan bikin media daring. Alasan utamanya adalah karena orang-orang yang kumasukkan dalam grup tersebut punya pandangan bahwa media alternatif itu perlu, terutama yang bisa memuat karya-karya tulis kami—kalau alasanku pribadi sih karena selalu ditolak media daring, bahkan luring sekalipun.
Diskusi di wa itu sulit ternyata. Akhirnya kami memutuskan bertemu saja. Dari total lima atau enam orang dalam grup itu cuma kami bertiga yang sanggup tatap muka langsung di Kafe Koka, Purwakarta.  Aku, Syamsul Aimmah, dan Aroka Fadli.

Kami bertiga bertemu untuk satu tujuan, mau bikin media yang kayak mojokdotco atau buruan.co atau bangor.in atau ketiganya sekaligus. Tapi khusus untuk mojok kami punya perhatian spesial. Kami bertiga suka mojokdotco, meski tulisan kami sering ditolak. Sebab media ini berhasil membuat ikatan yang menyenangkan antara pembaca dan penulisnya.

Mojok.co menurutku berhasil memberi kesenangan bagi pembacanya dan memberikan penghormatan (honor dan rasa bangga) pada penulisnya. Saat itu kami berpikir, kenapa tidak bikin saja media yang sedikit banyak sama dengan mojok. Sedikit sama. Bukan benar-benar sama. Karena kami tidak adakan sanggup menyaingi ‘modal’ mereka, terutama lingkaran pergaulan dan sdm. Dan yang paling krusial: tidak ada karya tiruan yang sanggup menyamai yang dia tiru. Sepersis apapun.

Dengan kenyataan seperti itu kami simpulkan bahwa untuk meniru mojok seupilnya saja, akan butuh waktu lama dan ketahanan mirip batok kepala badak. Hal pertama mungkin kami punya, hal yang kedualah yang kami ragu. Apalagi kami bertiga tinggal di daerah yang berbeda. Saya di Purwakarta, Syamsul di Bandung, dan Aroka Fadli di Jakarta.

Atas kesimpulan inilah akhirnya pembicaraan kami bertiga buntu. Selanjutnya seperti yang sudah bisa ditebak. Grup whatsapp bubar dan semua kembali pada urusan masing-masing. Aroka Fadli membuka perpustakaan jalanan Bacalima di Jakarta dan menyiapkan skripsinya, Syamsul menggagas komunitas Catatan Kaki di kampung halamannya di Karawang, sementara saya masih melanjutkan semua pekerjaan yang ada. 

Salah satu kegiataku adalah berkhidmat di Sanggar Sastra Purwakarta. Nah, pada awal  2017 bersama teman-teman di SSP seperti Fauzan Akbar, Aroka Fadli, kang Ali Novel, kang Rudi Ramdani, ambu Seli Desmiarti, dan Agus Diki memulai program @pustakaki, meniru perpustakaan-perpustakaan jalanan kebetulan sedang marak-maraknya di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Karawang, dan lainnya.

Setahun setelah pembicaraan itu berlalu, awal 2018 Aroka Fadli tinggal di Purwakarta dan aku ketemu teman-teman baru. Beberapa di antaranya Ayi Nurhasanah dan Ade Gunawan. Pembicaraan tahun lalupun berlanjut kembali.

Ayi Nurhasanah adalah guru Bahasa Indonesia yang bersemangat di sekolah tempatku mengajar. Sementara Ade Gunawan adalah anak muda di pelosok Wanayasa yang kukejar sebab puisi-puisinya yang bagus di www.tbmkopel.or.id.

Jadi aku rayu Ade Gunawan untuk tinggal sekos denganku dan Adittya Islahuzzman. Lalu meminta Adittya Islahuzzaman mempekerjakannya di Pesantren Desain, percetakan miliknya. Jadi dia kerja double. Di Pesantren Desain dan Nyimpang.

Sejak Ade tinggal di kosan kami itulah aku daftarkan domain nyimpang.com. Bersama Ade dan Ayi Nurhasanah kami mulai patungan untuk biaya website dan menyiapkan honor penulis yang tidak seberapa itu. Juga bergerilya dari grup-grup facebook, whatsapp, dm instagram, sampai melakukan pertemuan-pertemuan kecil demi satu tujuan: meminta mereka menulis di website kami yang baru dan tamplate-nya gratisan tersebut.

Dugaanku mungkin benar. Satu-satunya modal yang sama antara kami dengan mojok adalah waktu. Dan waktu, kita tahu, seperti angin. Tidak bisa dipegang. Kami perlu sesuatu yang lebih dari itu. Sebuah pelayaran tidak hanya perlu angin dan cuaca yang baik. Yang lebih penting: sebuah perahu. Sebuah ruang, tempat, wadah, apa saja yang lebih dari sekadar anginnya sedang bagus.

Maka  kami menyewa sebuah tempat dan menambah kerabat kerja. Tempat tersebut adalah ruangan 3 x 4 yang nantinya akan kami kenalkan. Sementara tambahan kerabat kerja tersebut adalah Devon Sucker, ilustrator dan perupa yang aduhay miringnya. Seorang lagi Hilmy Almuyassar, anak muda yang kecanduan tertawa dan jago edit video.

Itulah kawan-kawanku. Begitulah, kawan-kawanku. He he.

Setahun kedepan tempat ini terbuka untuk siapapun yang perlu teman untuk project-project kreatifnya.


PS: Seminggu lagi, kami akan merilis beberapa kabar tentang kegiatan-kegiatan di tempat baru ini. Meski begitu, kawan-kawan boleh datang, nyimpang, barangkali mau berbaik hati mengusulkan apa yang bisa diadakan di sini.

PSS: Oh iya, karena kemurahan hati tuwanqu Imam Adittya Islahuzzaman, kawan-kawan bisa menikmati akses internet gratis di sini. He he.


Ahmad Farid [Ketua Kelas]

Komentar

Postingan Populer